Senin, 18 November 2013

BAKTI ABU HURAIRAH KEPADA IBUNYA

 
BAKTI ABU HURAIRAH KEPADA IBUNYA

Kedua orang tua adalah orang yang paling berjasa besar bagi kita di dunia ini. Wajar apabila berbakti kepada mereka berdua adalah tugas terbesar bagi kita, setelah kewajiban beribadah kepada Allah. Sebesar apapun bakti kita terhadap mereka berdua tidak pernah menyamai jasa mereka berdua kepada kita.
Mereka merawat dan menyayangi kita dengan harapan besar, agar kita tumbuh berkembang menjadi manusia yang sukses baik didunia maupun di akhirat. Namun sangat disayangkan pada masa sekarang ini banyak sekali orang yang melalaikan hak-hak orang tuanya. Bahkan sampai  ada yang tidak mau mengakui orang tuanya sendiri sebagai bapak dan ibunya, gara-gara hal duniawi. Na’udzubillah.
Perhatikan dan cermatilah kisah bakti salah seorang sahabat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam kepada Abu Hurairah. Beliau adalah termasuk sahabat yang paling banyak  meriwayatkan hadits Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan di saat ibunya masih hidup, dia selalu membantu dan berdo’a untuk sang ibu.
.
Abu Hurairah Beusaha Mengajak Ibunya Masuk Islam
.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: مَا سَمِعَ بِي أَحَدٌ، يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ إِلَّا أَحَبَّنِي، إِنَّ أُمِّي كُنْتُ أُرِيدُهَا عَلَى الْإِسْلَامِ فَتَأْبَى، فَقُلْتُ لَهَا فَأَبَتْ، فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ: ادع الله لَهَا، فَدَعَا، فَأَتَيْتُهَا وَقَدْ أَجَافَتْ عَلَيْهَا الْبَابَ - فَقَالَتْ: يَا أَبَا هُرَيْرَةَ! إِنِّي أَسْلَمْتُ، فَأَخْبَرْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقُلْتُ: ادْعُ اللَّهَ لِي وَلِأُمِّي، فَقَالَ: "اللَّهُمَّ! عَبْدُكَ أَبُو هُرَيْرَةَ وَأُمُّهُ، أَحِبَّهُمَا إِلَى النَّاسِ".  (اخرجه البخاري في أدب المفرد (1/44))

Abu Katsir As-Suhaimi Rahimahullah berkata: Aku mendengar Abu Hurairah berkata: “Tidak seorangpun yang mendengarkanku baik dari Yahudi maupun Nasrani melainkan dia mencintaiku. Sesungguhnya aku menginginkan ibuku masuk islam, akan tetapi ibuku enggan. Setiap kali aku menawarkan ibuku lagi untuk masuk islam, dia selalu menolaknya. Maka akupun mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam sambil berkata: Berdo’alah kepada Allah untuk ibuku, maka Rasulullah mendo’akannya. Setelah itu akupun pulang menemui ibuku dan ternyata Allah telah membuka pintu hatinya untuk masuk islam. Kemudian Abu Hurairah membertahu Rasulullah dan berkata: “Do’akanlah aku dan ibuku, Maka Rasulullahpun mendo’akan mereka agar di cintai manusia.” (Hasan, HR Bukhari dalam Adabul Mufrad)
.
Abu Hurairah Senantiasa Mendo’akan Ibunya
 .
عن محمد بن سيرين قال: كُنَّا عِنْدَ أَبِي هُرَيْرَةَ لَيْلَةً، فَقَالَ: "اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَبِي هُرَيْرَةَ، وَلِأُمِّي، وَلِمَنِ اسْتَغْفَرَ لَهُمَا" قَالَ لِي مُحَمَّدٌ: فَنَحْنُ نَسْتَغْفِرُ لَهُمَا؛ حَتَّى نَدْخُلَ فِي دَعْوَةِ أَبِي هريرة.   (اخرجه البخاري في أدب المفرد)
.
Ibnu Sirin Rahimahullah berkata: Pada suatu malam ibnu Sirin pernah bersama Abu Hurairah . Ketika beliau berdo’a, kami mendengar beliau berkata: “Ya Allah, ampunilah aku dan ibuku serta ampunilah orang-orang yang memohonkan Ampun untuk Abu Hurairah dan Ibunya, agar kita termasuk orang-orang yang berada dalam do’anya Abu Hurairah. (Shahih, HR Bukhari dalam Adabul Mufrad)  

Lilik I (Abu Utsman)
 

Minggu, 17 November 2013

SEBENTARNYA KEHIDUPAN DUNIA




1.      Kehidupan Dunia Adalah Sementara
.
Hidup di dunia bersifat sementara, maka manfaatkanlah sebaik-baiknya untuk kebaikan dan amal shalih..

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

ما أنا في الدنيا إلا كراكب استظل تحت شجرة ثم راح وتركها

Artinya:
"Keberadaanku di dunia ini tak ubahnya bagaikan seorang bepergian (musafir) yang singgah di bawah pohon untuk berteduh, lalu meninggalkannya. (Shahih, HR Tirmidzi (2377), Imam Tirmidzi berkata : Hasan Shahih, di shahihkan oleh Imam AbdurRa’uf Al-Munawi dalam kitab “Taisir bi Syarhi Al-Jami’us Shaghir (2/355))

.
2.      Kehidupan Akhirat Adalah Kehidupan Kekal
.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
.
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ (77)-سورة-القصصص: 77
Artinya:
“Dan carilah apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (berupa kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasash [28]: 77).
.
3.      Mengingat Kematian Dapat Mengingat Hari Akhirat dan Tidak Terpedaya Terhadap Kehidupan Dunia.
.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
.
«اسْتَكْثِرُوا مِنْ ذِكْرِ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ، فَإِنَّهُ مَا ذَكَرُهُ أَحَدٌ فِي ضِيقٍ إِلَّا وَسَّعَهُ اللَّهُ، وَلَا ذَكَرُهُ فِي سَعَةٍ إِلَّا ضَيَّقَهَا عَلَيْهِ»
Artinya:
“Perbanyaklah mengingat si pemutus kenikmatan (yaitu kematian), tidaklah ada seorangpun yang mengingatnya ketika susah melainkan pasti akan merasa lapang. Dan tidaklah ada seorangpun  yang mengingatnya ketika lapang melainkan pasti akan merasakan sempitnya kehidupan dunia.” (HR. Thabrani, Al-Baihaqi,
dll. di shahihkan oleh Imam Al-Hakim, Ibnu Hibban, Ibnu Sakan, Ibnu Thahir (Lihat Talkhisul Habir (2/207))

4.      Dengan Memahami Tiga Keterangan Diatas, Maka Seseorang Akan Dapat Memahami Begitu Pentingnya Ibadah.

Dalam Sebuah Hadits Qudsi di Sebutkan:

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

«يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي، أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى، وَأَسُدَّ فَقْرَكَ، وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ، مَلَأْتُ صَدْرَكَ شُغْلًا، وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ»
Artinya:
“`Wahai anak Adam!, beribadahlah sepenuhnya kepadaKu, niscaya Aku penuhi (hatimu yang ada) di dalam dada dengan kekayaan & Aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan niscaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan & tidak Aku penuhi kebutuhanmu (kepada manusia)" [Shahih, HR Ibnu Majah (4107), di shahihkan oleh Imam Al-Hakim, Adz-Dzahabi, dll].

[Lilik i (Abu Utsman)]

Top of Form



Kamis, 14 November 2013

BENDERA SYETAN ADA YANG DI TANCAPKAN DI PASAR


BENDERA SYETAN ADA YANG DI TANCAPKAN DI PASAR
.
1.   Bolehnya Berjualan Di Pasar-Pasar
.
Pasar menjadi sumber rezeki, tempat perdagangan, dan menjadi tempat kebutuhan masyarakat. Dengan adanya pasar, mereka akan lebih mudah memperoleh barang dan jasa kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari.
.
Karena begitu urgennya peran pasar bagi kehidupan manusia, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga beraktifitas di pasar untuk memenuhi kebutuhan hariannya dan bekerja. Dan karena aktifitas manusiawi inilah, kaum kuffar menjadikannya sebagai alasan untuk menentang dan mendustakan risalah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
.
وَقَالُوا مَالِ هَذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الْأَسْوَاقِ لَوْلَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُونَ مَعَهُ نَذِيرًا
.
“Dan mereka berkata: "Mengapa rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia?” (QS. Al-Furqan: 7)
.
2.   Meskipun Boleh Berjualan Tapi Jangan Lupakan Shalat dan Urusan Akhirat:
.
Meskipun dibolehkan beraktivitas jual beli di pasar, Namun jangan sampai aktivitas tersebut melalaikan urusan akhirat  seperti Shalat lima waktu, dzikir, shalat jum’at, dll.
.
Inilah orang-orang gambaran yang tidak lalai dari mengingat Allah, yaitu orang-orang yang mencari rezeki (jual beli / berdangang), namun mereka tidak melalaikan dzikir kepada Allah, tidak melalaikan shalat lima waktu, zakat, dll. Maka orang-orang seperti ini digolongkan ke dalam rombongan orang-orang yang beruntung.
.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
.
رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالأَبْصَارُ} [النور:36 - 37]
.
“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (yaitu hari kiyamat).” (QS. Al-Nuur: 37).”
.
Disunnahkan berzikir kepada Allah di pasar disaat ada waktu-waktu luang, karena pasar tempat yang melalaikan dari zikrullah dan sibuk dengan dengan perdagangan. Sedangkan berzikir di tengah-tengah orang lalai laksana pohon hijau yang tumbuh di antara pohon-pohon yang kering. (Disebutkan oleh Ibnu Taimiyah dalam Fatawanya).
.
3.  Pasar Juga Tempat Medan Pertempuran Syetan dan Tempat Ditancapkannya Bendera Syetan
.
Sesungguhnya pasar merupakan medan perangnya setan dan tempat ditancapkan bendera kebesarannya, meskipun bendera syetan tersebut tidak Nampak / gho’ib, namun keberadaannya benar-benar ada, hal itu karena berdasarkan hadits Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Hal ini bisa ketahui karena adanya Hadits Shahih yang di sampaikan oleh Rasulullah dan Sahabat Salman Al-Farisi.
.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
.
عَنْ سَلْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا تَكُونَنَّ إِنِ اسْتَطَعْتَ أَوَّلَ مَنْ يَدْخُلُ السُّوقَ وَلَا آخِرَ مَنْ يَخْرُجُ مِنْهَا فَإِنَّهَا مَعْرَكَةُ الشَّيْطَانِ وَبِهَا يَنْصُبُ رَايَتَهُ»
Artinya:
“Jika engkau bisa, janganlah menjadi orang yang pertama masuk pasar dan terakhir keluar darinya. Karena pasar merupakan medan pertempuran syetan dan di sanalah ia menancapkan benderanya.” (Shahih, HR. Imam Al-Bazzar dalam Musnadnya (2541), dan Al-Burqani dalam Kitab Shahihnya).
--
Dalam hadits mauquf, yang berasal dari perkata’an Salman Al-Farisi, ia berkata:
.
لَا تَكُونَنَّ إِنْ اسْتَطَعْتَ أَوَّلَ مَنْ يَدْخُلُ السُّوقَ وَلَا آخِرَ مَنْ يَخْرُجُ مِنْهَا فَإِنَّهَا مَعْرَكَةُ الشَّيْطَانِ وَبِهَا يَنْصِبُ رَايَتَهُ
.
“Jika engkau bisa, janganlah menjadi orang yang pertama masuk pasar dan terakhir keluar darinya. Karena pasar merupakan medan pertempuran syetan dan di sanalah ia menancapkan benderanya.” (Shahih, HR. Muslim (2451))
.
Diserupakannya pasar dan aktifitas setan yang menggoda penghuninya dengan perang, karena banyaknya kebatilan yang terjadi di sana, misalnya: berbuat curang, penipuan, dusta, sumpah palsu, akad batil, menjual sesuatu yang sudah dipesan orang lain, membeli barang yang sudah ditawar orang lain, mengurangi takaran dan timbangan, ikhtilath, dan kebatilan lainnya.
.
Sedangkan maksud ditancapkan bendera setan di pasar adalah menunjukkan bahwa setan benar-benar bercokol di sana. Di sana, tentara-tentara setan berkumpul untuk menebarkan perselisihan di antara manusia dan menjerumuskan mereka kepada perbuatan-perbuatan buruk di atas dan semisalnya.
.
Maka dari sini, pasar adalah tempatnya setan dan tempat bala tentaranya. Sehingga kebanyakan para penghuni pasar dikuasai kelalaian. Oleh sebab itu, pasar menjadi tempat yang paling dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
.
4. Selain Medan Pertempuran Syetan, Pasar Juga Tempat Yang Dibenci Allah:
.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
.
أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا
.
"Bagian negeri yang paling disenangi Allah adalah masjid-masjidnya dan bagian negeri yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasarnya.” “ (HR. Muslim (671))
.
Hal ini karena pasar dipakai untuk Tempat beraktivitas masalah keduniaan semata, berbeda dengan Masjid yang dipakai untuk aktivitas ibadah dan kajian ilmu agama.
.
5.  Ada Sebuah Amalan Utama Sebelum Masuk Pasar,
Amalan Ini Sangat Cocok Untuk Orang Yang Pergi Ke Pasar 
.
Maka dari itu kita dianjurkan untuk mengucapkan amalan berikut ini sebelum masuk pasar, jika diamalkan tentu akan menjadi ladang pahala yang besar baginya.
.
Inilah bacaanya:
.
 "لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ"
.
((La ilaha illallahu Wahdahu La Syarikalah, Lahul Mulku Walahul Hamdu Yuhyi Wayumitu, Wahuwa Hayyun La Yamutu Biyadihil Khoiru, Wahuwa Ala Kulli Syai’in Qadir))”
Do’a diatas berdasarkan hadits berikut ini:
Dari Umar bin al-Khathab radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
.
مَنْ دَخَلَ السُّوقَ فَقَالَ "لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ" كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ
.
“Barangsiapa masuk pasar lalu ia mengucapkan, “Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya segala pujian. Dia-lah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan. Dia-lah Yang Hidup, tidak akan mati. Di tangan-Nya kebaikan. Dia-lah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu,” niscaya Allah menuliskan baginya sejuta kebaikan dan menghapuskan darinya sejuta kejelekan serta mengangkat derajatnya hingga sejuta derajat”."
.
(Hasan,  HR. At-Tirmidzi no. 3350, Ibnu Majah no. 2226, Al-Hakim no. 1930. Syaikh Al-Albani menyatakan, hadits tersebut hasan dalam Shahih al-Jami no. 6231, Misykah al-Mashabih no. 2431, Shahih al-Targhib wa Tarhib no. 1694). Dalam riwayat Ahmad terdapat tambahan, “Dan Allah membangunkan baginya rumah di surga.”
.
Demikianlah yang bisa saya sampaikan, Semoga Allah memberikan kepada kita kemudahankan untuk mengamalkan syari’at islam secara kaffah. Amiin !

Maraji’ Hadits:
“Tharghib Wat Tarhib” Karya Imam Al-Mundziri
“Hishnul Muslim” Karya Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, dll.
Penulis : Lilik I (Abu Utsman))

Rabu, 13 November 2013

BACAAN TASBIH KETIKA MENDENGAR PETIR




1.Bacaan tasbih yang shahih dari Sahabat Abdullah ibnu Zubair:

Dan dalam riwayatkan dari Abdullah bin al-Zubair di atas, jika ia mendengar guntur, maka ia berhenti berbicara, lalu membaca:

سُبْحَانَ الَّذِي يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ

(Subhanalladzi Yusabbihur Ro'du Bihamdihi Wal Malaikatu min Khifatihi)
Artinya:
"Mahasuci Allah yang guntur itu bertasbih dengan memuji-Nya, demikian malaikat karena takut kepada-Nya." Kemudian beliau berkata, "Sesungguhnya guntur itu adalah ancaman yang keras bagi penduduk bumi." 

(Shahih, HR. Malik dalam al-Muwatha' dan Imam al-Bukhari dalam kitab al-Adab al-Mufrad, no. 724, di shahihkan oleh imam al-Albani dalam kitabnya Takhrij al-Kalimut Thoyyib (157) dan Syeikh Musthofa al-Adawi dalam kitab Takhrij wabilus syoyyib (197)).

2. Atau boleh mengucapkan dengan bacaan tasbih ini (Dari Sahabat Abdullah ibnu Abbas):
سبحان الذي سبحت له
(Subhanalladzi sabbahat lahu)
Artinya:
Ikrimah Rahimahullah berkata: "Sesungguhnya ibnu Abbas ketika mendengar Guntur, maka ia mengucapkan: Subhanalladzi Sabbahat lahu ("Mahasuci Dzat yang guntur itu bertasbih dengan memuji-Nya."). lalu ibnu Abbas berkata: Sesungguhnya Ar-Ro'd adalah malaikat yang meneriaki dan membentaki Awan sebagaimana seperti seorang penggembala meneriaki dan membentaki  kambingnya. (Hasan HR Bukhari di kitab Adabul Mufrod, di hasankan oleh imam al-Albani (722)).

Bacaan tasbih yang masyhur di masyarakat tapi riwayat haditsnya dho'if (Lemah) :

Yang pertama: Imam Abu Ja'far bin Jarir al-Thabari meriwayatkan hadits yang dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu –beliau merafa'kannya- berkata: Apabila beliau mendengar guntur maka membaca:

سُبْحَانَ مَنْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ
Artinya:
"Mahasuci Dzat yang guruh itu bertasbih dengan memuji-Nya." (Dho'if HR Ibnu jarir, di dalamnya terdapat perowi yang tidak di ketahui namanya. (Lihat: Takhrijat Wa takhdzirot Min Ahadits Masyhurot, karya: Abdullah ibnu Muhammad Zuqoil (1/1)).
.
Yang kedua: Al-Auza'i rahimahullah berkata: Adalah Ibnu Abi Zakaria berkata: Siapa yang saat mendengar Guntur membaca:
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ
"Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya," maka petir tidak akan menyambarnya. (Dhaif HR Ibnu Jarir, di dalamnya ada perowi Maisaroh ibnu Abdi Robbih, ia perowi matruk, (Lihat: Takhrijat Wa takhdzirot Min Ahadits Masyhurot, karya: Abdullah ibnu Muhammad Zuqoil (1/4)).
.
Yang ketiga: Terdapat sebuah riwayat dari Ibnu Umar Radhiyallahu 'Anhu, bahwa apabila Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mendengar Guntur dan petir, beliau berdoa:
.
اللَّهُمَّ لَا تَقْتُلْنَا بِغَضَبِكَ وَلَا تُهْلِكْنَا بِعَذَابِكَ وَعَافِنَا قَبْلَ ذَلِكَ
.
"Ya Allah, janganlah engkau membunuh kami dengan kemurkaan-Mu, jangan hancurkan kami dengan siksa-Mu, dan berilah kami kesehatan sebelum itu." (HR. Al-Tirmidzi, Ahmad, Al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, al-Nasai dalam 'Amal al-Yaum wa al-Lailah, dan al-Hakim dalam Mustadraknya, tapi hadits ini di dha'ifkan oleh imam al-Albani (Lihat: Silsilah Al Ahadits Adh-Dha'ifah (1042)).
.
Penutup:
.
Saat melihat kilatan petir menghiasi langit dan mendengar guntur menggelegar maka di sunnahkan untuk membaca tasbih setiap kali mendengar suara guntur. Di antara sifatnya, sebagaimana yang telah dipraktekkan salaful ummah, tidak hanya satu macam saja, seperti yang disebutkan dalam beberapa riwayat di atas, Namun ada dua bacaan tasbih yang bisa di amalkan, karena berdasarkan amalan yang shahih Sahabat Abdullah ibnu Abbas dan Abdullah bin Zubair.   

Tambahan:


Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
.
((هُوَ الَّذِي يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا وَيُنْشِئُ السَّحَابَ الثِّقَالَ وَيُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ وَيُرْسِلُ الصَّوَاعِقَ فَيُصِيبُ بِهَا مَنْ يَشَاءُ وَهُمْ يُجَادِلُونَ فِي اللَّهِ وَهُوَ شَدِيدُ الْمِحَالِ))
Artinya:
"Dia-lah Tuhan yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan awan mendung. Dan guntur itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia-lah Tuhan Yang Maha keras siksa-Nya." (QS. Al-Ra'du: 12-13)
.
Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsirnya berkata, "Allah Ta'ala mengabarkan bahwa Dialah yang menundukkan kilat, yaitu cahaya terang mengkilat yang terlihat keluar dari celah-celah awan."
Sedangkan maksud Khaufa wa Thama'a (ketakutan dan harapan), menurut Qatadah Rahimahullah: "Ketakutan adalah untuk orang bepergian yang takut tertimpa bahaya dari kilat itu dan kesulitan yang ditimbulkannya. Sedang harapan adalah untuk orang muqim yang berharap berkah dan manfaatnya serta mengharap rizki Allah."  

Keberadaan petir dan guntur menjadi suatu peringatan keras bagi penduduk bumi. Dan terkadang dijadikan juga untuk menghukum/mengadzab sebagian manusia yang Allah kehendaki. Hal ini sebagaimana yang terdapat pada ayat di atas, "dan Allah melepaskan Guntur/halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki." 
.
Referensi:
"Tafsir Al-Qur'anul Adzim" Karya Ibnu Katsir
"Hishnul Muslim" Karya Sa'id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani

Lilik i (Abu Utsman)